Rabu, 06 Januari 2010


KAIN SASIRANGAN
Kain Sasirangan merupakan salah satu hasil kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun temurun. Kain ini oleh masyarakat setempat digunakan untuk membuat pakaian adat, yaitu pakaian yang digunakan orang-orang Banjar baik oleh kalangan rakyat biasa maupun keturunan para bangsawan untuk melaksanakan upacara-upacara adat.
Kain ini dipercaya sebagai kain sakral warisan abad XII saat Lambung Mangkurat menjadi Patih Negara Dipa. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Kalimantan Selatan, kain Sasirangan kali pertama dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat setelah bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit Balarut Banyu. Konon, menjelang akhir bertapanya, rakit Patih Lambung Mangkurat tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Di tempat ini, ia melihat seonggok buih yang dari dalamnya terdengar suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di daerah ini. Putri tersebut akan muncul (“mewujud”) kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung dan selembar kain yang ditenun dan dicalap (diwarnai) oleh 40 orang putri dengan motif wadi/padiwaringin yang keduanya harus diselesaikan dalam waktu sehari. Kain tersebut merupakan kain calapan, yang kemudian dikenal dengan sebutan kain Sasirangan, yang kali pertama dibuat.
Kain Sasirangan dipercaya mempunyai kekuatan magis yang dapat digunakan untuk mendukung pengobatan (batatamba), khususnya mengusir roh-roh jahat. Selain dapat menyembuhan, kain ini juga diyakini dapat menjadi alat ”pelindung” badan dari gangguan makhluk halus. Agar bisa menjadi alat pengusir roh jahat atau pelindung badan, pembuatan kain Sasirangan biasanya berdasarkan pesanan (pamintaan). Berdasarkan hal tersebut, orang Kalimantan Selatan menyebut Sasirangan sebagai kain pamintan (permintaan). Bentuk awal kain Sasirangan cukup sederhana, seperti ikat kepala (laung), sabuk dan tapih bumin (kain sarung) untuk kaum lelaki; dan selendang, kerudung, udat (kemben), dan kekamban (kerudung) untuk kaum perempuan.
Perkembangan zaman telah merubah fungsi kain Sasirangan dalam masyarakat Kalimantan Selatan. Nilai-nilai sakral yang terkandung di dalamnya seolah-olah ikut memudar tergerus arus globalisasi mode. Globalisasi menjadikan kain ini tidak hanya mengalami proses desakralisasi sehingga berubah menjadi pakaian sehari-hari, tetapi juga semakin dilupakan. Kain Sasirangan seolah-olah semakin tercerabut dari hati sanubari masyarakat Kalimantan Selatan.
Perlu segera dilakukan langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan kain Sasirangan dari kepunahan. Sedikitnya ada tiga hal yang dapat dilakukan, yaitu: pertama, melakukan transmisi pengetahuan nilai-nilai yang terkandung di dalam kain Sasirangan. Mungkin saja, semakin ditinggalkannya kain Sasirangan oleh masyarakat Kalimantan Selatan, karena masyarakat kurang mengetahui nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya, momentum otonomi daerah harus dimanfaatkan seluas-luasnya untuk menanamkan nilai-nilai lokal kepada masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memasukkan kain Sasirangan dan segala turunannya ke dalam mata pelajaran muatan lokal (mulok) (www.banjarmasinpost.co.id). Dengan dimasukkan menjadi salah satu pelajaran mulok, maka akan terjadi proses transformasi nilai-nilai yang terkandung dalam kain Sasirangan, dengan demikian generasi muda akan semakin mencintai local wisdom-nya.
Kedua, keberpihakan secara politik. Harus ada kepedulian dari para pemegang kekuasaan (decision maker) untuk memberikan ruang kepada batik Sasirangan untuk berkembang dan mengembangkan dirinya (http://muhammadrizkyadha.wordpress.com). Misalnya memberikan pelatihan peningkatan mutu kepada pada pengrajin, bantuan modal, memfasilitasi penjualan, dan sebagainya.
Dan ketiga, revitalisasi. Setelah ada proses pewarisan (melalui pendidikan) dan konstruksi kesadaran melalui “intervensi” politik, maka hal lain yang harus dilakukan adalah melakukan revitalisasi dalam: (1). Pemanfaatan kain secara lebih luas. Jika pada awalnya kain Sasirangan hanya digunakan untuk keperluan “jimat” dan pembuatan pakaian untuk keperluan upacara adat, maka mungkin perlu juga mengkreasi (baca: memodifikasi) kain Sasirangan sedemikian rupa sehingga model yang dihasilkan mencerminkan style busana modern sehingga generasi muda tidak malu untuk menggunakannya (www.banjarmasinpost.co.id dan http://rizkyadha.blogspot.com). (2). Ekonomisasi. Seringkali sebuah kebudayaan ditinggalkan oleh para pendukungnya, bukan karena kebudayaan itu jelek, tetapi karena ia tidak mampu menjanjikan kehidupan yang lebih baik kepada penyokongnya (http://www.indomedia.com). Oleh karenanya, pengembangan-pengembangan mode sehingga kain Sasirangan dapat diterima oleh pasar perlu terus dilakukan. Namun juga harus disadari bahwa revitalisasi harus berlandaskan kepada spirit dari kain Sasirangan itu sendiri (http://rizkyadha.blogspot.com). Dengan cara ini, keberadaan kain Sasirangan sebagai simbol jatidiri masyarakat Kalimantan selatan akan tetap terjaga.
Nilai-Nilai
Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa kain Sasirangan merupakan salah satu bentuk pengejawantahan dari local knowledge (pengetahuan lokal) masyarakat Kalimantan Selatan. Dengan kata lain, dengan “membaca” kain Sasirangan, maka akan diketahui beraneka macam nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Kalimantan Selatan. Di antara nilai-nilai tersebut adalah: nilai keyakinan, nilai budaya, dan nilai ekonomi.
Pertama, nilai keyakinan. Dengan meneroka sejarah keberadaan kain Sasirangan, maka akan diketahui pola perkembangan keyakinan masyarakat Kalimantan Selatan. Keyakinan masyarakat bahwa kain tersebut pertama kali dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat untuk memenuhi permintaan Putri Junjung Buih sebagai prasayarat untuk menampakkan diri, menunjukkan bahwa kain Sasirangan mempunyai nilai supranatural. Oleh karenanya, masyarakat Kalimantan Selatan juga meyakini bahwa kain ini mempunyai kekuatan untuk mengusir roh-roh jahat. Keyakinan tersebut secara jelas menunjukkan bahwa kain ini merupakan pengejawantahan dari keyakinan masyarakat Kalimantan Selatan.
Kedua, nilai budaya. Kain Sasirangan merupakan salah satu bentuk pencapaian kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan. Pemilihan bahan, cara pewarnaan, warna yang digunakan, dan pembuatan motif-motifnya, merupakan pengejawantahan dari hasil membaca dan memahami masyarakat Kalimantan Selatan terhadap alam dan fenomenanya. Selain itu, munculnya motif-motif kombinasi juga menunjukkan kreatifitas orang Kalimantan Selatan. Dengan kata lain, kain Sasirangan merupakan hasil dari pemikian masyarakat Kalimantan Selatan yang termanifestasi dalam produk yang memiliki nilai kultural.
Ketiga, nilai ekonomis. Seiring perkembangan zaman, masyarakat semakin menyadari adanya potensi ekonomi yang terkandung dalam kain Sasirangan. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya penggunaan kain Sasirangan, dari sekedar alat pengusir roh-roh jahat menjadi berbagai macam aneka produk, seperti baju pesta, sandal, tas, dan dompet. Selain itu, semakin dihargainya hasil kerajinan lokal memberikan nilai tambah ekonomis pada Sasirangan. Namun demikian, harus juga diperhatikan bahwa ekonomisasi tanpa memahami spirit yang terkandung dalam Sasirangan dapat menghilangkan “ruh” yang ada di dalamnya. Penggunaan pewarna kimiawi misalnya, mungkin saja akan lebih mengefektifkan pembuatan kain Sasirangan, tetapi juga harus disadari bahwa penggunaan pewarna kimia dapat merusak nilai-nilai lokal yang terkandung dalam kain Sasirangan.
TOKO SAHABAT HADIR DI JAWA TIMUR DENGAN MENJUAL BERANEKA RAGAM KAIN SASIRANGAN :

TOKO SAHABAT UNTUK PEMESANAN :
HUBUNGI : MASADAH 0343 – 7800354 ( BANGIL )

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda